KABAR ACEH ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan setelah sejumlah peternak ayam petelur mengungkap dugaan praktik jual beli yang dinilai merugikan pemasok. Mereka mengaku mendapat permintaan harga di bawah pasar, penundaan pembayaran, hingga pencantuman harga berbeda dalam nota.
Salah satu cerita itu disampaikan pemilik akun Threads @rissaayu90. Ia mengaku mendapat tawaran dari pihak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memasok telur dalam jumlah ratusan kilogram.
Menurut dia, pihak dapur justru meminta telur yang sudah lama disimpan karena harganya lebih murah. Ia menyebut kondisi telur tersebut berisiko tidak layak konsumsi.
“Ada orang dari MBG mau beli telur dalam jumlah ratusan kilo, tapi yang dia mau telur yang udah lama atau tidak fresh,” tulisnya dalam unggahan yang dikutip Sabtu, 15 Agustus 2026.
Baca Juga: Dana Pemulihan Pascabencana Sumatra Capai Rp100,17 Triliun, 11.520 Kegiatan Disiapkan
Ia juga mengaku diminta mencantumkan harga berbeda pada nota ketika memasok telur segar. Menurut unggahan tersebut, harga telur yang ditawarkan dari peternakan Rp23 ribu, tetapi pihak dapur disebut meminta nota ditulis Rp25 ribu.
“Terus saat dia mau beli telur fresh, dari aku harga Rp23.000 tapi dia nyuruh aku nyatet di nota dengan harga Rp25.000,” tulisnya.
Peternak Lain Mengaku Diminta Harga di Bawah Pasar
Unggahan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pengguna Threads lain yang mengaku memiliki pengalaman serupa. Akun @alwayshappyandlucky menceritakan pengalaman ibunya yang merupakan peternak dan pernah diminta menjadi pemasok telur untuk dapur MBG.
Menurut akun tersebut, pihak dapur meminta harga di bawah harga pasar dan pembayaran dilakukan secara tempo.
Baca Juga: Pria Ditemukan Meninggal di Bawah Rumah Panggung di Aceh Utara
“Mereka minta harga di bawah harga pasar, pembayaran tempo janjinya paling lambat satu bulan,” tulisnya.
Ia juga mengaku pihak dapur meminta adanya markup harga. Namun, ibunya memilih menolak kerja sama tersebut.