KABAR ACEH ID — Kematian dua gajah sumatra di Aceh dalam selang dua hari memicu desakan agar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengevaluasi sistem perlindungan dan kesehatan satwa. Evaluasi dinilai perlu mencakup gajah liar maupun gajah yang berada dalam pengelolaan manusia.
Dua gajah itu adalah seekor gajah jantan liar yang ditemukan mati di perkebunan sawit di Aceh Tamiang pada 9 Agustus 2026 dan anak gajah jinak bernama Yuna yang mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, dua hari kemudian.
Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan, Hidayatullah, mengatakan kematian dua gajah tersebut menambah kekhawatiran terhadap kondisi populasi gajah sumatra di Aceh.
"Populasi gajah sumatra di Aceh sendiri sebelumnya diperkirakan hanya berkisar 500 individu," kata Hidayatullah, Kamis, 13 Agustus 2026.
Baca Juga: Lima Tahun Ngajar Ngaji Gratis, Katratunida Dihadiahi Jenderal TNI Rumah Baru
Menurut dia, kematian gajah liar di Aceh Tamiang juga perlu mendapat perhatian. Gajah jantan itu ditemukan di areal perkebunan sawit PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, pada 9 Agustus sekitar pukul 12.00 WIB.
Saat ditemukan, kedua gading gajah masih utuh dan tidak terlihat luka pada tubuhnya. Pemeriksaan awal mengarah pada dugaan keracunan. Satwa tersebut diperkirakan telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan.
Yuna Mati di PLG Saree
Dua hari setelah penemuan gajah di Aceh Tamiang, Yuna, anak gajah berusia sekitar tiga tahun, mati di PLG Saree.
Pada Selasa pagi, 11 Agustus, Yuna masih terlihat aktif. Namun menjelang sore, mahout menemukan kondisinya memburuk. Mata dan wajahnya membengkak, sedangkan lidahnya tampak pucat kebiruan.
Baca Juga: Orang Tua Affan Kurniawan: Orang Tua Minta Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
Tim medis kemudian memberikan penanganan. Kondisi Yuna terus menurun hingga mati pada pukul 20.48 WIB.
Dugaan sementara penyebab kematian mengarah pada infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV). Penyakit tersebut dapat menyerang anak gajah dan berkembang dengan cepat.
Hidayatullah mengatakan dugaan penyakit itu tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium. Ia meminta BKSDA Aceh membuka riwayat kesehatan Yuna, hasil nekropsi, serta hasil pemeriksaan laboratorium kepada publik.
Artikel Terkait
Ekonomi Kreatif Padang Didorong Jadi Penggerak Industri Fashion dan Gastronomi
Kantor Pemkab Puncak Papua Tengah Dibakar Massa, 11 Gedung Terdampak
Rumah MC Tantangan Hafalan Al-Quran di Bekasi Digruduk Massa, Polisi: Sudah 3 Bulan Kosong
MBG 94 Siswa di Karanganyar Ditarik Sebelum Dibagikan, Kepala SPPG Muntah Usai Cicipi Ayam Rempah
Orang Tua Affan Kurniawan: Orang Tua Minta Tak Ada Peringatan Setahun Kematian