KABAR ACEH ID — Harga semen di sejumlah wilayah Aceh menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Wakil Ketua Komisi III DPRA Armiyadi meminta pemerintah menelusuri tata niaga semen dari produsen, distributor hingga pedagang setelah harga di tingkat toko disebut mencapai sekitar Rp120 ribu per sak.
Armiyadi menilai persoalan itu perlu diperiksa karena Aceh memiliki fasilitas produksi semen sendiri, yakni Pabrik Semen Lhoknga yang dikelola PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Namun, harga semen di sejumlah daerah Aceh justru disebut lebih tinggi dibandingkan Medan.
“Yang pasti di tingkat toko sudah terjadi kenaikan harga. Kalau di distributor apakah ada permainan harga atau tidak, itu harus diperiksa lagi. Pemerintah harus memastikan persoalan ini selesai secara menyeluruh,” kata Armiyadi, Selasa, 11 Agustus 2026.
Baca Juga: Hari Damai Aceh ke-21, Bupati Aceh Besar Minta Pemerintah Tunjukkan Manfaat Perdamaian
Menurut dia, pemerintah tidak cukup hanya memantau harga di tingkat pengecer. Pemeriksaan harus dilakukan dari hulu hingga hilir untuk mengetahui titik yang menyebabkan kenaikan harga, apakah berkaitan dengan produksi, stok, distribusi, atau mekanisme penjualan oleh distributor dan pedagang.
Armiyadi mengatakan keluhan mengenai semen sebelumnya juga muncul dalam bentuk kelangkaan. Kondisi itu kemudian diikuti kenaikan harga di sejumlah toko bangunan.
Ia meminta dugaan permainan harga tidak langsung disimpulkan sebelum ada pemeriksaan dan data. Namun, jika ditemukan pelanggaran tata niaga, pemerintah dan perusahaan harus mengambil tindakan.
“Jangan sampai masyarakat hanya melihat harga sudah tinggi, tetapi tidak tahu penyebabnya. Pemerintah harus memastikan apakah kenaikan itu karena pasokan, distribusi atau faktor lainnya. Kalau memang ada permainan harga, harus ditindak,” ujarnya.
Baca Juga: Jenazah Fakhrur Rizal Perantau Lhokseumawe Dipulangkan dari Batam, Haji Uma Bantu Biaya Rp4,25 Juta
Kebutuhan Semen Meningkat
Persoalan harga semen menjadi semakin penting karena kebutuhan material bangunan di Aceh berpotensi meningkat. Selain pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kebutuhan semen juga diperlukan untuk pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur dalam pemulihan pascabencana hidrometeorologi.
Armiyadi mengatakan kenaikan harga akan langsung menambah beban masyarakat yang sedang membangun atau memperbaiki rumah. Biaya pembangunan infrastruktur juga ikut terdampak jika harga bahan bangunan meningkat.
Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan ketersediaan stok sekaligus mengawasi distribusi semen agar tidak terjadi ketimpangan pasokan antarwilayah.
“Kalau nanti terbukti ada permainan harga di distributor, perusahaan harus mengambil tindakan. Jangan hanya memberikan teguran biasa, karena persoalan ini sudah beberapa kali dikeluhkan masyarakat,” katanya.
Artikel Terkait
Dua Rumah Kayu di Lhokseumawe Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp150 Juta
Pemkab Aceh Utara Salurkan Rp11,21 Miliar untuk Korban Bencana, Jadup Menyasar 230 KK
Dividen Bank Aceh Rp2,05 Miliar Masuk ke Pemko Banda Aceh, Zakat Rp400 Juta Disalurkan
Harga Telur Anjlok, Peternak DIY Bagikan 1.600 Ayam Afkir di Malioboro
Jenazah Fakhrur Rizal Perantau Lhokseumawe Dipulangkan dari Batam, Haji Uma Bantu Biaya Rp4,25 Juta
Hari Damai Aceh ke-21, Bupati Aceh Besar Minta Pemerintah Tunjukkan Manfaat Perdamaian